KABAR akan direlokasinya Pasar Barang Antik di kawasan Jalan Surabaya, Jakarta telah sampai di telinga para pedagang barang antik. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir mereka mengaku kedatangan puluhan media yang meminta komentarnya tentang rencana Pemerintah DKI Jakarta tersebut.
Pak Idan, yang telah berdagang selama 25 tahun hanya berucap satu kata: jangan! "Saya berharap tetap di sini. Pokoknya hanya satu kata, jangan! Ini tempat kita cari makan," ujar Idan yang ditemui di kios kecil bernomor 122 miliknya, Selasa (15/4) kemarin.
Alasan Pak Idan, yang juga menjadi alasan sejumlah pedagang lainnya adalah telah terbentuknya jalinan bisnis antara mereka dan pelanggannya yang tak hanya datang dari dalam negeri, tapi manca negara. "Kios-kios di sini kan nggak mengganggu ya, jalan lancar, tempat pejalan kaki ada. Apa masalahnya?" tutur dia lagi.
Idan tak membayangkan, jika rencana itu terwujud. Ratusan kepala keluarga yang menggantungkan mata pencariannya di tempat itu akan kebingungan. Keresahan Idan tak hanya miliknya sendiri. Atok, pedagang yang telah 28 tahun berdagang juga mengalami keresahan yang sama. "Biarpun katanya dipindah, disediakan tempat, tapi kan tidak menjamin jual belinya sebagus di sini," kata Atok.
Para pembeli yang biasa 'cuci mata' ataupun berburu barang antik, sama tak setujunya. Seorang wisatawan asal Inggris, Millian, mengaku telah beberapa kali menyambangi Pasar Antik Surabaya. "Kalau saya tidak salah ini kali keempat saya ke sini. Tempatnya bagus, barangnya bagus, melihat-lihat juga santai," katanya.Barang yang biasa dicari Millian berupa replika-replika kapal kuno dan jam-jam antik.
Sementara itu, Nancy, pemburu barang antik asal Bogor juga menyatakan ketidaksetujuannya. Kata dia, rencana relokasi ke kawasan Kota Tua tak tepat. Sebab, arus lalu lintas menuju kawasan tersebut terkenal macet dan sumpek. "Di sini nyaman, jalannya juga tidak terlalu ramai. Kalau tidak salah ingat, Kota Tua yang daerah Kota kan? Itu 'kan sumpek sekali, sering macet juga," ujar Nancy.
Akankah Pasar Antik Jalan Surabaya menjadi tinggal cerita? Bernasib sama dengan sejumlah kawasan penuh cerita seperti Pasar Barito yang kini tak jelas peruntukannya? Hanya satu kata dari para pedagang: jangan!
From KOMPAS.com
0 Comments:
Post a Comment